![]() |
| dr. Maya Fane Memah, M.Pd.Ked, Sp.Rad |
Manado, Garasiberita.com- Penanganan tumor otak berisi pedoman layanan atas pasien kanker mulai dari pencegahan, diagnosis, pengobatan, dan follow up.
Seluruh aspek penanganan kanker diperlukan untuk keberhasilan program penanganan (management) tumor, aspek-aspek itu akan memberi kontribusi yang ideal guna tercapainya keberhasilan penanganan kanker secara keseluruhan.
Pencegahan primer dengan penelusuran beberapa faktor risiko, masih sulit dilakukan karena beberapa faktor risiko yang bersifat tidak dapat diubah (unmodifiable). Faktor risiko pada meningioma misalnya adalah kelainan genetik (kehilangan kromosom 22 dan neurofibromatosis tipe 2) serta riwayat radiasi kranial dan trauma kepala. Sementara faktor risiko schwannoma berupa neurofibromatosis, pemberian dosis tinggi sinar radiasi, dan paparan kebisingan. Pencegahan sekunder sebagai upaya untuk menemukan tumor otak dalam stadium dini, dapat dilakukan dengan uji penapisan pada pasien-pasien yang faktor risiko tinggi terjadinya tumor otak.
Pemeriksaan-pemeriksaan yang diperlukan untuk diagnosis tumor otak: CT scan dengan kontras; MRI dengan kontras, MRS, dan DWI; serta PET CT (atas indikasi). CT scan berguna untuk melihat adanya tumor pada langkah awal penegakkan diagnosis dan sangat baik untuk melihat kalsifikasi, lesi erosi/destruksi pada tulang tengkorak. MRI dapat melihat gambaran jaringan lunak dengan lebih jelas dan sangat baik untuk tumor infratentorial, namun mempunyai keterbatasan dalam hal menilai kalsifikasi. Pemeriksaan fungsional MRI seperti MRS sangat baik untuk menentukan daerah nekrosis dengan tumor yang masih viabel sehingga baik digunakan sebagai penuntun biopsi serta untuk menyingkirkan diagnosis banding, demikian juga pemeriksaan DWI. Pemeriksaan positron emission tomography (PET) dapat berguna pascaterapi untuk membedakan antara tumor yang rekuren dan jaringan nekrosis akibat radiasi.
Pemeriksaan sitologi dan flowcytometry cairan serebrospinal dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis limfoma pada susunan saraf pusat, kecurigaan metastasis leptomeningeal, atau penyebaran kraniospinal seperti ependimoma. Pemeriksaan laboratorium terutama dilakukan untuk melihat keadaan umum pasien dan kesiapannya untuk terapi yang akan dijalani (bedah, radiasi, ataupun kemoterapi). Pemeriksaan yang perlu dilakukan, yaitu: darah lengkap, hemostasis, LDH, fungsi hati dan ginjal, gula darah, serologi hepatitis B dan C, dan elektrolit lengkap. Tatalaksana pada tumor otak adalah reseksi total bila memungkinkan dan melakukan biopsi terbuka, biopsi stereotaktik, atau reseksi parsial. Selanjutnya dilakukan penahapan (staging) dan pasien diberikan radiasi kraniospinal, kemoradiasi, ataupun radiasi dengan kemoterapi adjuvan bergantung pada hasil penahapan.
Keadaan gawat darurat saraf (neuroemergency) seringkali terjadi pada pasien dengan tumor otak, dan pasien tersebut membutuhkan terapi berupa pemberian kortikosteroid, hingga terapi bedah untuk pemasangan pirau (VP-shunt) untuk menurunkan tekanan intrakranial.
Proses evaluasi dan pemantauan pasien dilakukan dengan pencitraan MRI, yaitu setiap 2 bulan selama 2 tahun, kemudian setiap 6 bulan selama 3 tahun, dan selanjutnya setiap tahun. (Kementrian Kesehatan RI. Komite Penanggulangan Kanker Nasional. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran. Tumor Otak. Jakarta 2017).
Penulis : dr. Maya Fane Memah, M.Pd.Ked, Sp.Rad.
Bagian Radiologi Fakultas Kedokteran UNSRAT Manado
Komentar
